Rabu, 10 Juni 2015

HUKUM PERMINTAAN DAN PENAWARAN

HUKUM PERMINTAAN DAN PENAWARAN



STIE AMKOP
MAKASSAR


ARDI NURDIN
13 01 069







KATA PENGANTAR
       
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berisikan pembahasan singkat tentang Permintaan (Demand), Penawaran (Supply), Teori Konsumen, dan Teori Produksi.




Setiap pokok bahasan tersebut dibahas secara singkat dan jelas dengan mengambil dari beberapa sumber dan buku.
            Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Makassar, Oktober 2013
Ardi Nurdin
                                    i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR                                                                                                       i
DAFTAR ISI                                                                                                                       ii
PENDAHULUAN                                                                                                              iii
BAB     1          PERMINTAAN (DEMAND)                                                                           1
                        A.         FUNGSI PERMINTAAN                                                                      1                     B.            HUKUM PERMINTAAN                                                                      3
BAB     2          PENAWARAN (SUPPLY)                                                                                6
A.                 HUKUM PENAWARAN                                                                      9
BAB     3          TEORI KONSUMEN                                                                                        12
A.                 GARIS ANGGARAN                                                                            12
B.                 PERGESERAN GARIS ANGGARAN                                                    15
BAB 4             TEORI PRODUKSI                                                                                          19
A.                 BIAYA EKONOMIS                                                                              19
                                                                                                                                 
                                                                                                                                                ii
PENDAHULUAN
            Ilmu ekonomi ada ilmu alam yang semua orang pasti akan mempelajarinya secara langsung maupun secara tidak langsung. Yaitu melelui proses kehidupan itu sendiri, setiap makhluk pasti akan mengalami seluruh proses kegiatan ekonomi, seperti konsumsi, produksi, maupun distribusi.
            Makalah ini dibuat untuk memberi bekal sekadarnya tentang ilmu ekonomi itu, melalui beberapa materi yang telah diringkas, untuk lebih memahaminya. Beberapa materi tersebut yaitu tentang Permintaan (Demand), Penawaran (Supply), Teori Konsumen, dan Teori Produksi.
            Seluruh materi tersebut telah diringkas dengan mengambil pokok-pokok materinya. Agar pembaca dapat lebih mudah memahami setiap inti materi.
            Demikianlah sedikit uraian materi pada makalah ini. Selamat belajar. Jadikanlah sedikit materi ini sebagai ilmu yang bermanfaat di kehidupan kita. Wassalam.





                                                                                                                   iii
BAB 1
PERMINTAAN (DEMAND)
Teori permintaan menerangkan tentang sifat permintaan konsumen terhadap suatu barang yang disukai. Permintaan timbul dari keinginan. Hal itu menunjukkan bahwa permintaan dan keinginan merupakan dua hal yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sekalipun demikian, tidak dapat diingkari bahwa keduanya itu behubungan erat. Namun pada bab ini, lebih kepada pembahasan tentang           permintaan.
Permintaan adalah keinginan yang disertai dengan kesediaan serta kemampuan untuk membeli barang yang bersangkutan. Setiap orang boleh saja ingin kepada apapun yang diinginkannya, tetapi jika keinginannya itu tidak ditunjang oleh kesediaan serta kemampuan untuk membeli, keinginan itu pun hanya tinggal keinginan saja.

A.   Fungsi Permintaan
Konsep permintaan digunakan untuk menunjukkan keinginan seorang pembeli pada suatu pasar. Permintaan menerangkan tentang hubungan antara harga dengan jumlah barang yang diminta. Berdasarkan hubungan tersebut dapat dibuat grafik kurva permintaan.
Suatu permintaan pasar menunjukkan hubungan antara jumlah barang yang diminta oleh konsumen di suatu pasar pada berbagai tingkat harga, cateris paribus. Jumlah barang yang ingin dibeli konsumen selama periode waktu tertentu dituntukan oleh harganya, pendapatan uangnya, harga barang-barang lain dan seleranya.Permintaan perorangan atau masyarakat terhadap suatu barang ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya: harga barang itu sendiri, harga barang lain berdasarkan subtitusi terhadap barang tersebut, pendapatan rata-rata masyarakat,  jumlah penduduk, dam ramalan keadaan di masa yang akan datang.
Fungsi permintaan adalah persamaan yang menunjukkan hubungan antara permintaan akan sesuatu barang dan semua faktor-faktor yang mempengaruhinya. Fungsi permintaan dapat dirumuskan sebagai berikut:
Q = f (harga, pendapatan, selera, harapan-harapan, ....)
Dengan mengubah-ubah harga barang/jasa yang dipertimbangkan untuk dipilih, sementara pendapatan uang perorangan, selera, harga barang-barang lain dianggap konstan (cateris peribus), maka diperoleh skedul permintaan perorangan akan datang tersebut.
Permintaan adalah suatu skedul atau kurva yang menggambarkan hubungan antara berbagai kuantitas suatu barang yang dimiliki konsumen pada berbagai tingkat harga barang, cateris peribus. Penyajian secara kombinasi harga kuantitas yang dipilih konsumen dapat disajikan dalam bentuk skedul, grafik persamaan ditunjukkan tabel 2.1.
Tabel 2.1 Permintaan Barang X pada Berbagai Tingkat Harga
Titik
Harga / unit (Rp)
Jumlah yang diminta / bulan
A
1
9
B
2
6
C
3
4
D
4
3
E
5
2


Dengan  meletakkan tiap pasangan nilai pada suatu titik pada gambar dan menghubungkan titik-titiknya, diperoleh liku permintaan perorangan akan barang X seperti terlihat dalam gambar 2.1.

Harga

Jumlah yang diminta / bulan
               
Gambar 2.1 Kurva Demand

B.   Hukum Permintaan
Hubungan terbalik antara harga dan kuantitas, dapat dijelaskan oleh keadaan :  (1) jika harga suatu barang naik, konsumen akan mencari barang pengganti (subtitusi); (2) jika harga barang naik, pendapatan merupakan pembatas bagi konsumen, maka pembelian barang akan berkurang.Hubungan anatar harga dan kuantitas yang diminta adalah berbanding terbalik (negatif). Jika harga naik, kuantitas yang diminta akan turun, dan begitu pula sebaliknya, hubungan yang demikian disebut dengan “Hukum Permintaan”.

Kasus Pengecualian
            Ada tiga kasus dimana kurva permintaan yang menurun tidak berlaku:
1.        Kasus Giffen
Penurunan harga barang X justru menyebabkan jumlah barang X yang diminta konsumen semakin berkurang. Hal ini disebabkan income effect yang negatif  bagi barang inferior yang sangat besar, sehingga subtitusi effect yang positif tidak dapat menutup income effect yang negatif tersebut.
2.        Kasus Spekulasi
Kenaikan harga barang justru akan diikuti kenaikan permintaan akan barang tersebut, karena mempuyai harapan kenaikan harga barang yang dibeli meningkat di masa yang akan datang.
3.        Kasus Barang-Barang Prestise
Semakin tinggi hargabarng tersebut, semakin tinggi tingkat kepuasan konsumen yang diperoleh atas naiknya unsur prestise. Contoh: permata, mobil mewah, barang koleksi, dan lain-lain.

1.        Barang Pengganti (subtitusi)     Kaitan barang yang satu dengan barang yang lain dibedakan atas tiga golongan:
Barang yang dapat menggantikan fungsi dari barang tersebut, seperti sepatu dengan sandal, daging sapi dengan ayam.
2.        Barang Pelengkap (komplemen)
Barang digunakan selalu bersama-sama dengan barang lainnya, seperti mobil dan ban mobil, raket dan bola tenes, kopi dan gula.
3.        Barang Netral
Apabila dua macam barangtidak memiliki kaitan yang dekat, maka perubahan permintaan salah satu barang tidak akan mempengaruhi permintaan barang lainnya.

     Perubahan permintaan berlaku apabila pendapatan berubah, maka barang tersebut dapat dibedakan menjadi empat golongan:
1.        Barang Inferior
Barang yang banyak diminta oleh orang-orang yang berpendapatan rendah. Apabila pendapatan tinggi, maka permintaan barang inferior akan berkurang dan konsumen merubah pembeliannya dengan barang yang lebih baik. Misalnya konsumsi jagung diganti dengan beras super. Sepeda diganti dengan motor.
2.        Barang Esensial
Barang yang sangat penting artinya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Seperti kebutuhan pokok (beras, minyak goreng, gula, dan lain-lan).
3.        Barang Normal
4.        Barang MewahBarang yang mengalami kenaikan permintaan apabila pendapatan konsumen naik, seperti perabot rumah tangga, pakaian, dan lain-lain.
Barang yang dibeli oleh konsumen yang berpendapatan relatif tinggi  setelah kebutuhan pokoknya terpenuhi, seperti emas, berlian ,mobil, itan dan lain-lain.



BAB 2
PENAWARAN (SUPPLY)
            Konsep penawaran digunakan untuk menunjukkan keinginan para penjual (produsen) di suatu pasar. Jumlah barang yang ditawarkan seorang penjual berhubungang dengan banyak faktor. Di antaranya yang terpenting: harga barang itu usaha dari perusahaan tersebut dan tingkat teknologi yang digunakan.
            Keadaan tersebut dapat dituliskan dalam fungsi sebagai berikut:
            Q = F (harga, harapan pada masa datang, harga barang lain, ...)
            Para penjual akan memilih jumlah barang yang ditawarkan  yang dapat memaksimumkan laba mereka. Para penjual harus bersedia dan mampu untuk menyediakan jumlah barang tersebut yang ditunjukkan oleh fungsi penawarannya.
            Pengertian fungsi penawaran adalah suatu kurva atau skedul yang menunjukan hubungan antara kuantitas suatu barang yang ditawarkan pada berbangai tingkat harga, ceteris paribus. Sepanjang suatu kurva penawaran hanya harga dan kuantitas yang ditawarkan yang berubah-ubah.
            Penyajian secara kombinasi-kombinasi harga-kuantitas yang dipilih dapat disajikan dalam bentuk skedul, grafik atau persamaan, lihat tabel 2.2.
            Tabel 2.2        Daftar Penawaran Barang “Y” Pada Berbagai Tingkat Harga
Titik
Harga / Unit (Rp)

7
Jumlah yang diminta / bulan
A
1
0
B
2
3
C
3
4
D
4
5
E
5
6

            Dengan meletakkan tiap pasangan nilai pada suatu titik pada gambar dan menghubungkan titki-titiknya, diperoleh kurva penawaran produsen akan barang Y, seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

Jumlah yang diminta / bulan

Harga / unit (Rp)
                                   
                                               
                                                Gambar 2.2    Kurva Penawaran


A.   Hukum Penawaran
Hubungan antar harga dan kuantitas yang ditawarkan adalah searah (positif). Jika harga naik, kuantitas yang ditawarkan semakin meningkat, hubungan yang demikian disebut “hukum penawaran”.
Makin tinggi harga suatu barang, makin banyak jumlah barang tersebut yang akan ditawarkan oleh para penjual, sebaliknya makin rendah harga suatu barang makin sedikit jumlah barang yang ditawarkan oleh penjual.
Perubahan atau pergeseran kurva penawaran itu terjadi karena telah berubahnya faktor-faktor yang menghubungkan kurva penawaran itu dengan harga maupun jumlah yang ditawarkan. Adapun faktor-faktor yang dimaksudkan itu adalah:
a.         Jumlah pedagang
b.        Harga faktor produksi
c.         Harga barang alternatif
d.        Harapan pada pedagang (produsen) terhadap harga-harga mendatang
e.         Perubahan teknologi

 Perubahan penawaran mengandung dua pengertian, yaitu perubahan meningkat (increase in supply) dari perubahan menurut (decrease in supply), yang masing-masing. Peningkatan penawaran maupun penurunan penawaran, memiliki dua pengertian pula,sebagai berikut.Inilah kelima faktor yang disebutkan diatas sebagai faktor-faktor yang menentukan hubungan antara kurva penawaran baik dengan jumlah yang di tawarkan maupun dengan harga. Berubahnya salah salah satu atau lebih dari ke lima faktor tersebut akan dapat menyebabkan terjadinya pergeseran kurva penawaran. Di akhir pembicaraan mengenai hal ini nanti akan di bicarakan pula mengenai pengertian pergeseran kurva penawaran itu, tetapi sekarang ini lebih dahulu akan di bicarakan mengenai kelima faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran itu.
Maksud meningkatnya penawaran (increase in supply) adalah :
a.    Pada setiap tingkat harga tertentu, akan ditawarkan jumlah yang lebih besar dari pada jumlah yang ditawarkan  sebelumnya; dan
b.    Suatu jumlah tertentu akan ditawarkan pada tingkat harga yang lebih rendah daripada tingkat harga sebelumnya.
Sebaliknya, yang dimaksudkan dengan turunnya penawaran (decrease in supply) adalah:
a.    Pada suatu tingkat harga tertentu akan di tawarkan jumlah output yang lebih sedikit daripada jumlah yang di tawarkan sebelumnya; dan
b.    Suatu tingkat output tertentu akan ditawarkan pada tingkat harga yang lebih tinggi daripada sebelumnya.

a.    Elastis sempurna (perfect atau infinitive elastisity) adalah suatu keadaan ketika berapa pun jumlah barang akan ditawarkan pada suatu tingkat harga tertentu.Sebagaimana halnya elastisitas permintaan, elastisitas penawaran adalah: ukuran kepekaan tentang besarnya perubahan jumlah yang ditawarkan jika harganya berubah. Pengertian elastisitas penawaran tersebut dapat diterjemahkan sebagai berikut: elastisitas penawaran adalah ratio (perbandingan) antara perubahan relatif jumlah yang ditawarkan dengan perubahan relatif harga. Dalam hal ini, elastisitas penawaran memiliki lima kriteria sebagai berikut:
b.    Elastis atau relatif elastis (elastic atau relatively elastic) adalah suatu keadaan ketika tingkat perubahan jumlah yang ditawarkan adalah lebih besar daripada tingkat perubahan harga.
c.     Elastisitas satu (unit elastisity) adalah suatu keadaan ketika tingkat perubahan jumlah yang ditawarkan sama dengan tingkat perubahan harga.
d.    Inelastis atau relatif inelastis (inelastic atau relatively inelastic) adalah suatu keadaan ketika tingkat perubahan jumlah yang ditawarkan lebih kecil dari pada tingkat perubahan harga.
e.    Inelastis sempurna (absolutely inelastic) atau elastisitas nol (zero elasticity) adalah suatu keadaan ketika jumlah yang ditawarkan tidak akan mengalami perubahan sekalipun terjadi perubahan tingkat harga.

BAB 3
TEORI KONSUMEN
Pilihan konsumen untuk menjelaskan dan meramalkan barang-barang/jasa yang akan dipilih oleh rumah tangga konsumen pada tingkat pendapatan dan harga tertentu. Konsep ini dapat juga digunakan untuk menurunkan kurva permintaan akan barang/jasa.
A.   GARIS ANGGARAN (BUDGET LINE)
Garis anggaran (Budget line) adalah garis yang menunjukan jumlah barang yang dapat dibeli dengan sejumlah pendapatan atau anggaran uang dan harga-harga komoditi tertentu. Konsumen akan mampu untuk membeli sejumlah barang yang terletak sebelah kiri garis anggaran. Titik-titik yang mendekati bagian sebelah kanan menunjukkan pengeluaran yang semakin besar. Demikian pula sebaliknya.
            Garis anggaran merupakan kendala atas pola konsumsi konsumen, untuk memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas. Sedangkan pendapatan yang memiliki terbatas.
Garis anggaran tersebut menunjukan semua kombinasi berbeda dari barang x dan y yang dapat dibeli oleh konsumen dengan pendapatan (uang yang dimiliki sebesar Rp. 10.000,-) dan harga x dan y tertentu Maka fungsi anggaran :Misalkan harga barang x =Rp .100,-/unit dan harga barang y=Rp. 50,-/ unit. Sedang pendapatan konsumen sebesar Rp 10.000/hari dan seluruh pendapatan itu dibelanjakan untuk beli barang x dan y. Maka garis anggaran ditunjukan oleh garis budget lines = I = Rp 10.000,-. Dan bila dibelikan barang x semua akan memperoleh 100 unit. Dan bila dibelikan barang y semua juga akan memperoleh 200 unit.
I = Px . X + Py . Y, dimana Rp 10.000,- = 100x + 50y
Geometri Garis Anggaran
            Misalkan seorang konsumen mengeluarkan uang sebanyak I=30, untuk konsumsi nonton film dan membeli minuman soda setiap minggunya. Harga tiket nonton film di gedung bioskop sebesar Pm = 6 dan minuman soda sebesar Ps = 3.
            Berdasarkan nformasi pasar ini, di dalam tabel 3.1 ditunjukkan beberapa gabungan nonton film di gedung bioskop dan minuman soda yang dapat dibeli oleh uang (30,-) yang dimiliki konsumen tersebut.
Tabel 3.1        Gabungan Konsumsi Nonton Film dan Minuman Soda yang dapat dibeli Konsumen.
Titik Gabungan
Movie
Soda
Konsumsi
Kuantitas
Pengeluaran ($)
Kuantitas
Pengeluaran ($)
A
0
0
10
30
B
1
6
8
24
C
2
2
6
18
D
3
18
4
12
E
4
24
2
6
F
5
30
0
0

            Berdasarkan tabel 3.1 dapat digambarkan dengan menggabungkan titik-titik A, B, C, D, E, dan F yang menggambarkan gabungan konsumsi nonton film di bioskop dan minuman soda. Garis yang menghubungkan titik-titik tersebut adalah garis anggaran pengeluaran dan barang (budget line) yang dapat dibeli, ditunjukkan gambar 3.1 berikut.


Soda

Movies
            Gambar 3.1 Pengeluaran untuk Konsumsi Nonton Film dan Soda
            Titik-titik pada garis tersebut menggambarkan gabungan konsumsi nonton film dan soda yang dapat dibeli dengan menggunakan uang yang ada di tangan konsumen, yang terbatasi oleh garis anggaran (budget line).


B.   PERGESERAN GARIS ANGGARAN
Perubahan harga atau pendapatan akan mempengaruhi garis anggaran pengeluaran. Apabila harga salah satu barang naik, sedangkan harga barang lain tetap, maka jumlah barang yang dibeli berkurang seolah-olah pendapatan konsumen berkurang. Maka garis anggarang bergerak ke kiri. Sebaliknya, jika harga barang turun, maka barang yang dibeli lebih banyak. Garis anggaran bergeser ke kanan. Perubahan garis anggaran yang disebabkan perubahan pendapatan dengan asumsi harga kedua barang tersebut tetap.

PILIHAN KONSUMEN
            Teori perilaku konsumen mencoba menerangkan tentang tindakan manusia dalam memuaskan kebutuhannya, dikaitakan berbagai kendala yang membatasi konsumen memenuhi kebutuhan berupa barang dan jasa yang terbatas sifatnya.
            Tingkah laku konsumen dalam menetapkan pola pilihannya menggunakan konsep preferesi bahwa jika seseorang lebih menyukai barang X dari pada Y, berarti segala kondisi dibawah pilhan X disukai daripada kondisi dibawah Y. Ada dua hubungan preferensi yaitu :
1.    Kelengkapan (empleteness)
2.    Transitifitas  (transsitivity)Jika barang X dan Y merupakan dua kondisi maka setiap konsumsen harus dapat menspesifikasikan apakah X lebih disukai daripada Y, Y lebih disukai daripada X, atau X dan Y sama-sama disukai. Dan jelek sehinnga dapat menentukan pilihannya diantara dua barang tersebut.
Jika konsumen lebih menyukai barang A daripada barang B dan lebih menyukai B daripada C, maka yang lebih disukai harus A daripada C. Maka konsumen preferensinya tidak saling bertentangan.

Pendekatan Perilaku Konsumen
            Ada dua pendekatan untuk menerangkan mengapa konsumen berperilaku seperti yang dinyatakan oleh Hukum Permintaan:
a.    Pendekatan Marginal Utility
Pendekatan Marginal Utility ini merupakan determinan dari Utility (total Utility) yang menganggap kepuasan konsumen yang diperoleh dari konsumsi barang/jasa dapat diukur dengan satuan uang atau dengan satuan tertentu (pengukuran kardinal), seperti 10 porsi, 100 kg, dan lain-lain.
b.    Pendekatan Indeference Curve
Pendekatan kurva indiference (kurva selera) ini menganggap bahwa kepuasan atau utilitas yang diperoleh konsumsi atas pembelian barang/jasa dapat diukur dengan tingkatan tertentu (ordinal), seperti sangat puas, sangat suka, dan lain-lain.

A.       Pendekatan Utility (Kardinal)
Asumsi yang digunakan dalam perdekatan ini adalah:            
Dalam pendekatan nilai guna kardinal menganggap bahwa kepuasan konsumen yang diperoleh dari pembelian barang-barang dan jasa dapat diukur dengan satuan tertentu, seperti berat, tinggi, rupiah dan lain-lain. Manfaat atau keputusan yang diperoleh konsumen tersebut dapat dinyatakan secara kuantitatif atau dapat diukur.
1.        Kepuasan dapat diukur satuan tertentu (kardinal).
2.        Berlakunya hukum Gossen (law of  diminishing marginal utility),yaitu semakin banyak suatu barang yang dikonsumsi maka tambahan keputusan (marginal utity) yang diperoleh dari setiap santun tambah yang dikonsumsikan akan menurun.
3.        Kosumen selalu bertindak rasional dalam arti menggunakan pendapatannya yang tertentu atau terbatas untuk pencapai kepuasan yang maksimun dengan tunduk pada kendala anggaran yang dimiliki.
Dalam teori ekonomi kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsikan barang dinamakan nilai guna (utility). Dalam hal in nilai guna dibedakan atas nilai guna total dan nilai guna marginal atau batas
Nilai guna total adalah jumlah seluruh kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsikakan barang tertetu.Sedang nilai guna marginal adalah penambahan dari satu unit barang yang dikomsumsi per satuan waktu.

B.       Pendekatan Kurva Indeference (Ordinal Curve Approach)

17
Pendekatan original menggunakan indeferen kurva (IC) disebut pula kurva selera, yang niali tingkat kepuasan diperoleh oleh konsumen diukur dengan tingkatan atau rangking tertentu.
Kurva Indeference adalah satu kurva yang menunjukkan kombinasi konsumsi (pembelian) dua macam barang yang memberikan tingkat kepuasan yang sama bagi konsumen. Untuk dapat menerangkan perilaku konsumen dengan pendekatan ini diperlukan beberapa asumsi yaitu :
1.    Konsumen berusaha memaksimumkan kepuasan.
2.    Kepuasan konsumen tidak dapat diukur secara kardinal tetapi dapat diperbandingkan.
3.    Konsumen mempunyai pola pilihan atau preferensi akan barang dan jasa yang diinginkan.
4.    Konsumen mempunyai marginal rate of subtitution yang menurun untuk suatu tingkat utilitas.
Kurva indeferen menggambarkan preferensi konsumen, artinya konsumen tidak akan lebih suka kepada atau titik mendekati origin dibanding titik-titik lain pada kurva tersebut. Skala preferensi adalah suatu sistim atau serangkaian aturan untuk menentukan pilihan.




BAB 4
TEORI PRODUKSI
            Biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan output tertentu merupakan nilai yang harus dikorbankan (hilang) dari alternatif penggunaan dalam proses produksi.. input yang digunakan untuk memproduksi output tersebut sering disebut biaya oportunis.
            Opportunity cost (biaya oportunis) merupakan biaya suatu faktor produksi yang memiliki nilai maksimum yang menghasilkan output dalam suatu penggunaan alternatif.
            Biaya produksi ini disebut pula suatu faktor produksi yang produktif digunakan untuk produksi ouput merupakan nilai dari kesempatan (opportunity) dari faktor ini untuk kegiatan lain.
            Biaya produksi perusahaan dapat diartikan sebagai semua pengeluaran yang dilakukan perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi yang akan digunakan untuk menciptakan barang-barang yang diproduksikan perusahaan tersebut.

A.       BIAYA EKONOMIS
Biaya ekonomis terdiri dari 2(dua):            Biaya perusahaan merupakan faktor produksi yang penggunaan alternatifnya yang terbaik. Persediaan sumber ekonomi yang terbatas jumlahnya dibandingkan dengan kebutuhan manusia, maka jika suatu perusahaan menggunakan sumber-sumber produksi untuk menghsilkan suatu produksi akan memilih penggunaan biaya yang paling mengguntungkan.
1.        Biaya privat(biaya internal)
Biaya internal (biaya privat)adalah biaya yang ditanggung individu yang memproduksi atau mengkonsumsi suatu barang
2.        Biaya eksternal
Biaya eksternal adalah biaya yang ditanggung oleh masyarakat yang secara tidak langsung ikut memproduksi dan mengkonsumsi suatu barang .
Biaya yang paling menguntugkan merupakan internal ekonomis daripada perusahaan itu yang harus dipilih dalam kegiatan produksinya.
Pengertian internal ekonomis adalah penhematan atau penurunan biaya produksinya saat output yang dihasilkan bertambah.
Sebab-sebab terjadinya internal ekonomis dijelaskan sebagai berikut :
a.         Labour ekonomic
labour economic merupakan prinsip daripada pembagian kerja (divisi on of labour). Jika tetap buruh memusatkan perhatiannya pada sebuah pekerjaan yang kecil dalam produksi suatu barang ,maka produksi akan bertamabah naik dan tercapailah efisiensi yang lebih besar yaitu:(1) penghematan waktu untuk pindah dari satu pekerjaan lain ;dan (2) penemuan mensin-mesin yang digunakan untuk menggantikan tenaga buruh.
b.       Internal ekonomis terdapat juga karena penggunaan mesin-mesin besar yang memerlukan biaya per unit hasil produksi akan turun dengan naiknya jumlah output. Dengan turunnya biaya pe unit maka keuntungan yang dapat diperoleh perusahaan akan bertambah sebesar penurunan biaya per unit.Technical Economies
c.         Marketing Economies
Jika hasil produksi diperbesar, dan penggunaan biaya pemasaran tidak seberapa naiknya dengan kenaikan hasil produksi tersebut, maka biaya pemasaran per unut akan turun.
d.        Managerial Economies
Managerial economies yaitu keuntungan yang diperoleh perusahaan yang diakibatkan kecakapan manajer dari perusahaan tersebut.
            Dalam teori ekonomi mikro, produsen dianggap sebagai unit produktif dari masyarakat yang terlibat mengubah sumber-sumber daya (resource) menjadi barang-barang konsumsi akhir.
            Perusahaan adalah suatu organisasi yang membeli dan menyewa sumber-sumber daya, memproduksi melalui suatu proses produksi dan kemudian menjual barang dan jasa yang dihasilkannya tersebut kapada pihak lain.
            Perusahaan sering disebut produsen, yaitu suatu unit ekonomi yang memproduksi barang-barang konsumsi akhir.
            Produsen berada dalam kondisi pasar yang sempurna, artinya dalam penawaran keuntungan maksimun dapat dicapai dengan dua cara :            Asumsi yang digunakan dalam teori produksi adalah : produsen bertindak secara rasional yaitu produsen berusaha mencapai keuntungan yang maksimum. Produsen mempunyai pengetahuan yang sempurna, terutama tentang output yang dihasilkan.
1.        Menekan biaya seminal mungkin pada faktor-faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi;.
2.        Memaksimalkan tingkat produksi dari faktor produksi yang digunakan.
Dalam usaha untuk mencapai keuntungan maksimal, ada dua
Keputusan yang harus diambil oleh produsen:
1.        Berapa output yang harus dihasilkan;
2.        Berapa dalam kondisi yang bagaimana faktor produksi yang digunakan.
Ada dua pendudukan dalam teoriprodksi yaitu:
1.        Fungsi produksi dengan satu input variabel.
2.        Fungsi produksi dengan dua input variabel.
            Fungsi produksi yang berhubung dengan pasar, jangka waktu yang digunakanada 2 (dua) yaitu :
1.        Jangka waktu yang sangat pendek (short run), artinya yang menunjukkan situasi produksi autputnya dapat berubah tetapi variabel faktor produksinya tidak berubah/tetap.
2.        Jangka panjang (long run), artinya semua variabel produksi dapat berubah baik autput maupun faktor produksi yang digunakan.

Dalam fungsi produksi berlaku hukum pertambahan hasil yang semakin berkurang (the law of Deminishing return), yang menyatakan bahwa input dapat berubah-ubah dalam kegiatan produksi, maka setelah mengalami titik tertentu tambahan output total yang dihasilkan dari setiap unit tambahan input variabel akan menurun.
            Faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya (seperti tenaga kerja, bahan baku) terus menerus ditambah sebanyak satu unit , maka pada mulanya produksi total akan semakin banyak pertambahannya, tetapi sesudah mencapai suatu tingkat tertentu produksi tambahan akan semakin berkurang, dan akhirnya mencapai nilai negatif. Hal ini menyebabkan pertambahan produksi total semakin lambat dan akhirnya mencapai tingkat maksimum dan kemudian menurun.
            Dalam teori ini digunakan dua jenis faktor produksi dimana satu faktor produksi dianggap sebagai faktor produksi variabel dan faktor produksi lainnya dianggap tetap.
            Fungsi produksi dengan input satu variabel menggambarkan konsep produksi yang penting. Hubungan antara satu input variabel dengan output digambarkan dengan kurva-kurva total product (TP), margianl product (MP) dan average product (AP).Dan hubungan input variabel tersebut (satu input) dengan output yang dihasilkan dapat dinyatakan:
                        Q=f (L)
Dimana:   Q =  output yang dihasilkan
            Hubungan tingkat produksi dan jumlah tenaga kerja yang digunakan dapat terjadi dalam tiga kondisi ,yaitu:                  L =  imput variabel tenaga kerja
1.         Tahap pertama, produksi mengalami pertambahan yang semakin cepat;
2.         Tahap kedua, produksi total penambahannya semakin lama semakin kecil;
3.         Tahap ketiga, produksi total semakin lama semakin semakin berkurang.
 


                                                                   DAFTAR PUSTAKA
Ekonomi Mikro oleh Sonny Sumarsono (Permintaan dan Penawaran, hal 21 - 50).
Pengantar Teori Ekonomi oleh Suherman Rosyidi (Permintaan dan Penawaran, hal 289).
Ekonomi Mikro oleh Sonny Sumarsono (Teori Pilihan Konsumen, hal 59 – 85).
Ekonomi Mikro oleh Sonny Sumarsono (Teori Produksi hal 115 – 119 dan Biaya Produksi hal 151 – 154).


iv
Ardi Nurdin.......

Tidak ada komentar: